Thursday, April 19, 2012

PSK Merajalela, Ibu Rumah Tangga Resah

PSK Merajalela, Ibu Rumah Tangga Resah

PSK (ilustrasi).

BANDUNG – Lokalisasi di sekitar stasiun Bandung, membuat resah sejumlah ibu rumah tangga. Pasalnya, puluhan penjaja seks komersial (PSK) sepanjang Jalan Stasion Timur menuju arah stasiun Bandung, sudah beraktivitas meski masih pukul 19.00 WIB.
"Siapa yang enggak resah, suami saya kan kalau kerja pulang malam," ujar Neni (39), seorang ibu rumah tangga, Sabtu (13/4).
Menurutnya, sejumlah PSK di sekitar stasiun Bandung beraktivitas hampir tiap malam. Hal tersebut, ungkap Neni, membuat khawatir hampir seluruh ibu rumah tangga yang berdomisili di sekitar lokasi prostitusi.
"Banyaklah sebenarnya yang protes. Ada yang khawatir kalau anaknya ikut main, ada juga yang seperti saya, takut suaminya digoda," tambahnya.
Sementara itu, berdasarkan pantauan Republika, sejumlah PSK dengan pakaian minim, sudah berbaris di sepanjang Jalan Stasion Timur, Bandung. PSK dari berbagai usia tersebut tak ragu melambai mengajak calon "pelanggannya".
Siti (bukan nama sebenarnya), PSK setempat, mengaku mendalami profesinya sejak lima tahun yang lalu. Menurut wanita 28 tahun ini, pelanggannya sebagian besar pelajar atau mahasiswa. "Biasanya mahasiswa yang kos, suka main ke sini," ujarnya.
Wanita asli Indramayu tersebut mengaku dalam semalam bisa membawa pulang Rp 500-700 ribu. "Tapi tergantung, kadang pernah pulang nggak bawa uang, namanya juga rejeki," imbuhnya.
Sejumlah PSK di seputar Stasion Timur ini sebagian merupakan "produk" migrasi dari lokalisasi ternama di Kota Bandung, Saritem. Sejak menjadi sorotan dan beberapa kali dilakukan penertiban, sejumlah PSK berpencar ke berbagai tempat seperti Tegallega, alun-alun, hingga Stasion Timur.
Sementara itu, di lokalisasi Saritem, Andir, Kota Bandung, aktivitas kawasan tersebut nampak lengang. Namun demikian, sejumlah "calo" masih terbilang ramai menawarkan "jasa bermalam" di depan sejumlah penginapan.
Berdasarkan keterangan warga setempat, praktik prostitusi di kawasan tersebut terbilang lebih terorganisir. Para PSK tidak terlihat "mangkal", mereka lebih memilih berada di dalam ruangan/penginapan. Sedangkan sejumlah calo bertugas mencarikan pelanggan dari tiap pengunjung yang datang. Parahnya, beberapa pedagang pun ikut andil dalam tugas "percaloan" tersebut.

7 Fakta Memilukan Tentang PSK,,

7 Fakta Memilukan Tentang PSK , Sebuah kuesioner terbagi sudah ke 150 Pekerja Seks Komersial di bilangan wisata seks di dekat pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar. Pengambilan sampel accidental (non probability), dari 150 PSK dan inilah pengakuan mereka:

1. Tak menikmati hubungan seksual
Sayapun termasuk yang salah kaprah selama ini, saya kira bahwa PSK menikmati hubungan intim itu dengan para pelanggan, nyatanya dalam kuesioner terbuka ia menjawab tak menikmatinya. Malah deg-degan sebab pasangan selalu berganti dan bervariasi cara komunikasinya. Mereka cemas akan sesuatu, seuatu itu yang dimaksud adalah ketersinggungan pemakai/pengguna/user. Mereka benar-benar tak enjoy dengan pekerjaan itu, malah kerap keringat dingin sebab kecemasan.

2. Ingin cepat selesai
Layanan seksual yang dilakoni, mereka pengen berakhir secepat mungkin. Malah jika memungkinkan tak perlu ada hubungan seks, sebab ia pun malu hati disebut sebagai pelacur dan tukang jajakan tubuh.

3. Nama samaran berganti-ganti
Nama PSK dapat berganti sebanyak 3-4 kali dalam semalam. Kemudian dengan mudah memberikan nomor hp dan nomor HP itu benar adanya hanya saja jarang diaktifkan. Takut jika terbaca sama keluarga ataupun teman. Yang paling ditakutkan ketika tiba-tiba bertemu dengan salah seorang keluarga.

4. Pengen dapat suami baik-baik
Nah ini dia, PSK ternyata sama cita-citanya sesama perempuan bahwa ia juga pengen dapat suami baik-baik, ingin menjadi istri yang baik-baik, pengen jadi ibu yang baik-baik dan berusaha sekuat tenaga agar anak-anaknya tak seperti dirinya.

5. Bersedia bertobat
PSK setiap saat ingin bertobat dan kadang jika tiba di halaman rumahnya/kostannya berjanji takkan kembali ke lokalisasi, namun pikiran kalut kadang membuatnya harus kembali ke pelacuran. Sebab, ia merasa kehidupannya telah di sana. Namun, jika sudah sampai di tempat pelacuran. Ia memohon diberi kesempatan bertobat sekali lagi.. Wedew, tobat sambal kecap…

6. Yang paling sering dia ingat adalah ibunya selanjutnya adiknya dan ayahnya
Wajah ibu dan suara ibu yang paling sering ia ingat, ia meminta maaf dari lubuk hatinya yang terdalam dan ia berkata: maafkan anakmu ma. Saya yang salah. Semoga mama sehat-sehat saja.

7. Ia tak ingin berlama-lama di lokalisasi
PSK umumnya tak ingin berlama-lama di lokalisasi, mereka berharap akan keluar suatu saat sebelum menjadi tua sebab ia merasa bersalah terus-menerus. Ia berharap ada orang yang baik hati untuk menolongnya keluar dari dunia hitam. Inilah yang membuatnya sering menangis ketika tiba di rumahnya/kostannya.

Soekarwo bersikeras prostitusi di Jatim harus dibubarkan

Soekarwo bersikeras prostitusi di Jatim harus dibubarkan

PSK. merdeka.com/shutterstock

Reporter: Moch. Andriansyah

Gubernur Jawa Timur, Soekarwo bersikeras menutup tempat-tempat prostitusi dan memulangkan para pekerja seks komersial (PSK) ke daerahnya masing-masing. Rencana Kementerian Sosial melokalisir tempat-tempat prostitusi di Jawa Timur ditolak.
"Silakan Pak Dirjen mewacanakan relokasi. Tapi di sini (Jawa Timur) enggak. Mereka pulang mau, dilatih mau, kenapa perlu dilokalisir," ujar Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, Kamis (19/4).
Seperti diketahui, pihak Dirjen Rehabilitasi Kemensos mewacanakan merelokasi tempat-tempat prostitusi ke pulau tak berpenghuni atau di atas kapal pesiar seperti Genting Island di Malaysia. Nantinya tempat itu menjadi pusat kawasan perjudian dan prostitusi.
Namun, menurut Pakde Karwo biasa Soekarwo disapa tidak perlu ada relokasi kawasan prostitusi seperti itu di Jawa Timur. Para PSK sendiri katanya, sudah bersedia untuk pulang dan berhenti dari dunia pelacuran.
"Yang perlu dilakukan adalah mencari solusi untuk akar persoalan para PSK. Melalui pendekatan yang selama ini dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur. Masalah ekonomi itu menjadi masalah utama PSK enggan meninggalkan dunianya," jelasnya.
Selain itu, masalah sosial juga dialami para PSK. Stigma negatif sering melekat sehingga masyarakat tidak mau menerima. Ini pun tetap dicarikan solusi. "Kalau masalahnya ekonomi, ya dicarikan solusi ekonomi. Kalau masalah sosial, ya supaya mereka kembali bisa diterima," katanya.
Hingga saat ini, Pakde Karwo mengaku, tengah gencar memberantas prostitusi dan mengentaskan para PSK. Dari 7.000 PSK yang ada di Jawa Timur, 700 orang di antaranya sudah berhasil dipulangkan.
Sementara itu, komitmen Pakde Karwo ini juga mendapat apresiasi dari masyarakat Surabaya, yang lebih mengenal lokalisasi Dolly. Menurut Deny Tri Aryanti ini misalnya. Perempuan yang bergelut di seni teater ini sepakat dengan ide Pakde Karwo untuk menutup lokalisasi. Namun, kata dia, harus ada pemecahan masalah secara kongkrit, tidak hanya sekadar ditutup saja.
"Ya kalau cuma ditutup tanpa solusi sama juga bohong. Meski PSK-nya dikasih duit kalau masalah utama tidak diberantas ya sama saja. Mereka dikaryakan, dididik agar bisa menjadi mandiri tanpa harus menjual tubuh," katanya.
Menurutnya, persoalan para PSK itu sangat komplek. Bukan hanya masalah sosial, tapi masalah ekonomi juga yang menjadi penyebab terjerumusnya para PSK itu ke dunia hitam.
"Masalah itu yang harus menjadi fokus utama, jadi tidak sekadar menutup tanpa solusi. Kasihan dong mereka kalau harus ditutup terus tidak berpenghasilan. Lah mereka terus makan pakai apa? Apalagi di kota besar, uang menjadi jawaban dari semua persoalan," pungkas dia.[did]

Wow! Robot Seks Diprediksi Gantikan PSK di Rumah Bordil

Rachmatunisa - detikinet

Kamis, 19/04/2012 13:29 WIB


Robot seks digambarkan dalam film Austin Power

London - Sejak kemunculannya, robot seks mencuri perhatian. Berbagai penyempurnaan pun terus dilakukan dan produksi robot seks semakin banyak. Di masa depan, bisa saja tenaga Pekerja Seks Komersial (PSK) digantikan robot cantik dan seksi ini.
Setidaknya demikian yang dikatakan dua ilmuwan asal Selandia Baru. Mereka memprediksi bagaimana industri seks di masa depan seiring keanggihan teknologi robot. Di 2050, menurut mereka, prostitusi akan digantikan robot seks yang diproduksi secara massal.
Ian Yeoman dan Michelle Mars dari Victoria Management School di Wellington, Selandia baru sangat yakin prediksi ini bisa menjadi kenyataan. Dalam makalah riset mereka berjudul 'Robots, Men and Sex Tourism', keduanya menulis tentang rumah bordil khayalan populer di salah satu sudut kota di Amsterdam, Belanda bernama Yub-Yum.
"Yub-Yum menjadi rumah bordil modern dengan ratusan robot PSK cantik berambut pirang, mengenakan lingerie dan G-string yang menggairahkan," demikian cuplikan makalah riset tersebut yang dilansir Daily Telegraph, Kamis (19/4/2012).
Untuk menikmati semua layanan robot seks, mulai dari lap dancing hingga bercinta, pengunjung akan dikenai biaya sekitar USD 9.500. Robot PSK yang dihadirkan pun akan beragam etnik, bentuk tubuh, usia, bahasa maupun fitur seks yang diinginkan pelanggan.
Yeoman dan Mars beranggapan, dengan tidak lagi mengekploitasi kaum wanita, prostitusi akan berada pada tingkatan baru yang lebih terhormat. Mereka yang menggunakan layanan Yub-Yum, dijamin akan mendapatkan pengalaman mengesankan.
"Semua robot seks yang diperkirakan akan menggunakan OS Android ini akan diprogram untuk melakukan setiap layanan dengan sempurna dan memuaskan hasrat pelanggan," simpulnya.
( rns / ash )

Wednesday, April 18, 2012

Saritem, lokalisasi yang sulit direhabilitasi

saritem. merdeka.com/jerobandung.blogspot.com

Reporter: Andrian Salam Wiyono

Rencana Dirjen Rehabilitasi Kementerian Sosial untuk merehabilitasi lokalisasi di Jawa Timur, mengingatkan kita pada sejumlah lokalisasi yang ada di tanah air. Lokalisasi Saritem salah satunya.
Saritem seakan tak bisa lepas dari image kota Bandung. Sebab, lokalisasi yang terletak di Jantung Kota, dan terhimpit tiga jalan besar yakni Jalan Astana Anyar, Jalan Gardujati, dan Jalan Sudirman, itu telah ada sejak abad 19 di kota kembang itu.
Begitulah Saritem, kawasan prostitusi yang terkenal di Bandung layaknya Pasar Kembang di Yogyakarta, Dolly di Surabaya atau Kramat Tunggak di Jakarta.
Hasil penelusuran merdeka.com, Kamis (19/4), tak ada data pasti soal sejarah keberadaan Saritem di Bandung. Namun, Saritem diyakini telah ada sejak Belanda membangun jaringan rel kereta api sampai di Kota Bandung, pada awal 1800-an.
Lokasinya yang berdekatan dengan stasiun kereta api yang kini dinamakan Stasiun Bandung itu menambah persyaratan bagi Saritem sebagai lokasi melting pot (tempat berbaurnya masyarakat yang berbeda latarbelakang dan asalnya). Saat itu, Saritem diyakini dibuat untuk untuk memenuhi syahwat para pekerja yang jumlahnya amat banyak.
Versi lain menyebutkan, asal muasal Saritem berasal dari seorang penjahit cantik atau mojang priangan bernama Nyi Saritem. Saat itu dia membuka rumah bordir di area itu. Dia kemudian dijadikan istri peliharaan oleh seorang menir Belanda.
Meski telah ditutup pada 18 April 2007, bisnis prostitusi di lokalisasi itu dikabarkan masih terus terjadi. Upaya pemerintah untuk menghilangkan penyakit sosial pun sudah dilakukan dengan mendirikan pesantren Darut Taubah di area bekas lokalisasi. Tapi pembangunan pesantren itu kenyataannya tidak mampu menghalangi kegiatan bisnis mesum itu.
Hingga kini Saritem masih terus beroperasi. "Nyi Saritem" masih terus menjual kemolekan tubuh yang dimilikinya kepada pria hidung belang.[dan]

Sarkem sudah menjadi bagian obyek 'wisata' Yogya

sarkem. merdeka.com/malesbanget.tk

Reporter: Parwito

Upaya penertiban lokalisasi yang akan dilakukan Dirjen Rehabilitasi dan Kementerian Sosial di Jawa Timur mungkin saja meluas. Tidak menutup kemungkinan lokalisasi Sarkem, yang berada di Kota Yogyakarta, menjadi sasaran berikutnya.
Sarkem, yang terletak di jantung Kota Yogyakarta, DIY, bisa dibilang lokalisasi kesohor. Disebut Sarkem karena kawasan lokalisasi ini dulunya adalah tempat pasar kembang (Sarkem). Jalan lokalisasi di sebelah selatan Stasiun Tugu Yogyakarta itu kini juga dinamai Jalan Pasar Kembang.
Sarkem kini seolah sudah menjadi bagian dari kegiatan wisata di sekitar Kota Yogyakarta. Tak jarang wisatawan baik lokal maupun asing mencoba 'berwisata' di lokalisasi yang berada di dalam gang sempit tersebut.
Menurut sejarahnya, lokalisasi ini pertama kali muncul pada tahun 1884. Saat itu, kawasan Sarkem dimanfaatkan pekerja seks komersil (PSK) untuk melayani para pekerja pembangunan Stasiun Tugu. Pekerja bangunan itu juga membangun tempat-tempat penginapan dan fasilitas lainya di sekitar kawasan wisata Malioboro, yang merupakan jantung Kota Gudeg ini.
Letak Sarkem juga strategis. Selain bersebelahan dengan Malioboro, lokalisasi ini juga dekat dengan pos penjagaan polisi, Kantor Gubernur serta Kompleks Keraton Yogyakarta. Jumlah PSK terakhir yang tercatat pada Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Griya Lentera Yogyakarta pada 2005 adalah 300 orang. Kini tercatat sekitar 350 PSK.
Keberadaan lokalisasi Sarkem ini sering dikhawatirkan oleh kebanyakan masyarakat Kampung Sosrowijayan Kota Yogyakarta. Keberadaan PSK yang tahun ke tahun terus meningkat ditakutkan akan memberi dampak negatif yang mempengaruhi perilaku keluarga yang ada di kampung tersebut, terutama terhadap anak-anak kecil.
Walaupun kegiatan yang dilakukan oleh para PSK tersebut dilakukan malam hari, tingkah laku dan kebiasaan yang sering dipraktikkan setiap hari, seperti tata cara berpakaian,
tutur kata, dinilai akan sangat mempengaruhi kondisi kepribadian anak-anak warga sekitar berumur 4-15 tahun yang tinggal di Kampung Sosrowijayan.
"Ada sekitar 200-an PSK yang mencari hidup di Pasar Kembang ini tahun lalu. Mereka terpaksa menjadi pelacur karena desakan ekonomi. Jika ada kesempatan yang lebih baik pasti mereka juga insaf," terang  Agawan Zarlianto, Ketua RT 15 RW III Sosromenduran, Gedongtengen, Kota Yogyakarta, tak jauh dari Sarkem.
Lebih lanjut Agawan menyatakan, keberadaan prostitusi terbesar di Yogyakarta ini memang terus menjadi polemik di masyarakat. Ada pihak yang menginginkan lokalisasi ditutup, namun ada juga pihak yang tidak setuju karena hal itu adalah masalah perut.
“Meski masalah perut, namun jika pemerintah tegas maka lokalisasi di Pasar Kembang ini bisa saja ditutup," tandas Agwan.
Kekhawatiran warga sekitar juga terjadi manakala para PSK juga melayani tamu para pengunjung yang merupakan wisatawan asing. Maraknya turis asing itu dikhawatirkan warga semakin memicu penyebaran penyakit HIV AIDS.[ren]

Kramat Tunggak, dari lokalisasi kini jadi tempat mengaji

 

kramat tunggak. merdeka.com/reader's digest Indonesia july 2008

Reporter: Mardani

Dirjen Rehabilitasi Kementerian Sosial berniat merehabilitasi lokalisasi yang ada di Jawa Timur, termasuk di Surabaya seperti Dolly. Jika rencana ini terealisasi, hal ini bukan kali pertama terjadi.
Dulu di Jakarta sempat ada lokalisasi yang biasa dikenal dengan nama Kramat Tunggak. Area lokalisasi yang tepat berada di Koja, Jakarta Utara itu mulai populer sejak Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menetapkannya sebagai Lokasi Resosialisasi (Lokres) Pekerja Seks Komersil (PSK) dengan dikeluarkannya SK Gubernur DKI Jakarta No. Ca. 7/1/13/1970.
Kini lokalisasi Kramat Tunggak telah berubah menjadi kawasan ibadah Jakarta Islamic Center (JIC), sejak ditutup pada akhir 2009 oleh Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso.
Penutupan area lokalisasi yang kabarnya terbesar di Asia Tenggara itu dilakukan Sutiyoso atas desakan para ulama dan masyarakat. Desakan itu kemudian ditindaklanjuti Dinas Sosial DKI Jakarta yang bekerjasama dengan Universitas Indonesia, dengan melakukan sebuah penelitian yang menghasilkan rekomendasi penutupan tempat tersebut. Pasalnya, lokalisasi Kramat Tunggak dinilai telah menimbulkan penyakit masyarakat.
Akhirnya, pada 31 Desember 1999, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso resmi menutup area lokalisasi tersebut, dengan mengeluarkan SK GUBERNUR DKI JAKARTA NO 6485 TAHUN 1998.
Informasi yang dihimpun merdeka.com, Kamis (19/4), setelah ditutup, banyak gagasan yang muncul agar bekas area prostitusi seluas 11 hektar itu dibangun menjadi pusat perkantoran, sentra kegiatan olahraga, kegiatan sosial, kegiatan perekonomian, dan keagamaan. Namun, dari beberapa gagasan itu, Sutiyoso akhirnya memilih membangun sentra kegiatan agama Islam, atau yang dikenal dengan Jakarta Islamic Center (JIC).
Pemprov DKI kemudian memberikan pelatihan keterampilan kepada para PSK, agar bisa mencari rezeki secara halal. Data yang diperoleh menyebutkan, pada mulanya lokalisasi Kramat Tunggak hanya memiliki 300-an Pekerja Seks Komersial (PSK) dan 76 germo. Seiring berjalannya waktu, jumlah PSK terus bertambah. Saat ditutup jumlah PSK di Kramat Tunggak mencapai 1.615 orang, dengan 258 orang mucikari. Mereka tinggal di 277 unit bangunan yang memiliki 3.546 kamar.
Kini bangunan megah Masjid Agung Jakarta Islamic Centre di atas tanah seluas 14,625 M2 telah mengubah citra Kramat Tunggak yang dulu menjadi wisata seks di Jakarta Utara, menjadi kawasan ibadah dan keagamaan.
Lantas beranikah Dirjen Rehabilitasi Kementerian Sosial merehabilitasi area lokalisasi di Jawa Timur?[dan]

Kekerasan Terhadap Perempuan Meningkat Tajam

 

Kamis, 02 Februari 2012 | 20:49

Yayasan Pulih bekerjasama dengan UNiTE gencar melakukan kampanye Stop Kekerasan Terhadap Perempuan

Yayasan Pulih bekerjasama dengan UNiTE gencar melakukan kampanye Stop Kekerasan Terhadap Perempuan (sumber: Yanuar Rahman/Beritasatu)

Tahun 2010 tercatat 105.103 kasus, sedangkan 2011 sebanyak 400.939 kasus.
Kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM).
Masalah ini memang sudah terjadi sejak dahulu kala dalam berbagai bentuk seperti, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perdagangan manusia (trafficking), pelecehan seksual, hingga pemerkosaan.
Di Indonesia, pada tahun 2010, Komnas Perempuan mencatat ada 105.103 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi. Sedangkan pada 2011 sebanyak 400.939 kasus.
Fakta tersebut menunjukkan, bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat tajam. Kondisi ini tentu saja sangat memrihatinkan.
Inilah yang menjadi alasan mengapa Yayasan PULIH bersama dengan UN Women (United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women), mengadakan program kampanye Stop Kekerasan Terhadap Perempuan.
Kampanye yang dilakukan di bawah payung kampanye global Sekjen PBB, UNiTE (UN Secretary-General's UNiTE to End Violence Against Women Campaign) ini, secara global akan dilaksanakan hingga 2015.
Di Indonesia, Yayasan PULIH secara khusus mengaktifkan dan mengenalkan adanya layanan konseling kasus kekerasan terhadap perempuan.
Selain itu dilakukan pula sosialisasi perubahan pola pikir agar tidak malu lagi mengakui dan menyelesaikan masalah bila terjadi kekerasan, khususnya yang dilakukan oleh pasangan.
"Banyak perempuan di Indonesia yang merasa malu atau takut membicarakan tentang kekerasan yang terjadi di diri mereka. Kami akan membantu mereka. Bila sebelumnya mereka bingung mau mengadukan hal ini ke mana, maka sekarang mereka bisa datang ke kami", kata Soraya Salim, Project Officer Yayasan Pulih dalam jumpa pers Gerakan 5 Jari di Hotel Sahid, Jakarta, hari ini.
Sasaran dari kampanye ini adalah remaja usia 16-24 tahun. "Kami memang sengaja memilih anak muda agar ke depannya kami berharap bisa mencegah kekerasan terhadap perempuan di masa yang akan datang," imbuhnya.
Gerakan ini merupakan gerakan non-profit, sehingga bagi siapapun yang datang, mereka bisa mendapatkan pelayanan tanpa harus memikirkan biaya.
"Kita fokus pada layanan konseling dan penguatan psikologis. Untuk biaya, kita tidak menetapkan berapa, karena pada prinsip kita siapapun yang datang, harus dibantu," jelas Martan, salah satu board dari Yayasan Pulih.
Selain itu, Yayasan Pulih juga akan melakukan subsidi silang. "Jadi bagi yang mampu, mereka bisa memberi sedikit lebih untuk menutup yang tidak bisa membayar atau hanya membayar sedikit saja", tambahnya.
Rencananya, kampanye ini akan dilakukan mulai 8 Februari 2012 dengan mendatangi lima sekolah dan lima universitas di Jakarta.
"Kita memang masih melakukannya di Jakarta saja karena alasan keterbatasan, tapi kedepannya kita berharap bisa melakukan ini di daerah-daerah juga," tutupnya.

Penulis: Yanuar Rahman/Ririn Indriani

Perdagangan Manusia Merebak di Register 45, Lampung

 

Kamis, 08 Maret 2012 | 15:54

Ilustrasi penolakan perdagangan manusia

Ilustrasi penolakan perdagangan manusia (sumber: Antara)

Sebagian besar dari korban perdagangan manusian itu adalah anak-anak.
Solidaritas Perempuan Lampung mengungkapkan tingkat perdagangan manusia di kawasan Register 45 Mesuji Lampung cukup tinggi.
"Sebagian besar mereka adalah anak-anak yang putus sekolah dengan kondisi ekonomi orang tua yang tidak mampu," kata Koordinator Solidaritas Perempuan Lampung Umi di Bandarlampung, hari ini.
Dia mencatat, ada tiga anak dari kawasan Moromoro Mesuji yang diperjualbelikan. "Mereka dijual untuk dijadikan sebagai pembantu rumah tangga, bahkan ada yang berprofesi penjaja seks," ujarnya.
Anak-anak tersebut diperjualbelikan di daerah Batam dan Singapura dan beberapa daerah lainnya dengan alasan himpitan ekonomi.
"Orang tua mereka memiliki keterbatasan penghasilan, bahkan untuk kebutuhan makan saja masih sulit, karena nasib mereka yang hidup dalam kawasan itu tidak menentu," ujarnya.
Tawaran perdagangan manusia, menurut Umi, datang dari berbagai penjuru terus dengan imbalan sejumlah uang yang diyakini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di sana.
"Daerah lintas Sumatera itu juga banyak titik lokalisasinya, ini sangat miris sekali," katanya, saat hadir dalam peringatan Hari Perempuan Internasional.

Penulis: Ratna Nuraini

Sumber:Antara

Gadis Cantik 'I' Dipaksa Jadi PSK

Gadis Cantik 'I' Dipaksa Jadi PSK

Kepolisian Resor Bogor Kota berhasil mengungkap praktik perdagangan perempuan dijadikan pekerja seks komersial (PSK). - istimewa

INILAH.COM, Bogor - Kepolisian Resor Bogor Kota berhasil mengungkap praktik perdagangan perempuan dijadikan pekerja seks komersial (PSK), salah satu korban I (18) mengaku dipaksa untuk melayani para laki-laki hidung belang.

"Kita dipaksa mbak, kalau tidak kerja kita disuruh bayar utang. Mau lari juga tidak bisa karena diawasi cctv dan ada petugas yang berjaga-jaga pakai senjata pistol," kata I di Bogor, Sabtu.

I yang tinggal di Citereup ini mengaku tidak mengetahui soal utang yang disebutkan oleh pelaku. Dirinya dipaksa bekerja untuk melunasi utang tersebut.

Utang tersebut, menurut I adalah biaya hidup, makan dan pelengkapan yang digunakan oleh mereka sehari-hari.

"Saya pernah minta untuk berhenti, tapi tidak boleh, karena saya masih ada utang kata si mami. Mami bilang saya punya utang Rp4 juta," katanya.

I mengaku sudah jalan delapan bulan bekerja di kafe Rio milik Yuli yang dipanggil "mami" oleh para pekerja PSK.

I juga pernah ditawari pekerjaan dengan gaji besar ternyata juga menjadi PSK. Tapi hanya bertahan dua bulan, I melarikan diri dan kembali ke Bogor.

Menurut I, ia mendapat tawaran bekerja dari Iwan yakni rekan Yuli alias Ayu pemilik kafe Rio di Palembang yang ditugaskan untuk merekrut perempuan-perempuan yang akan dijadikan PSK.

Mendapat tawaran dan dijanjikan pekerjaan yang berpenghasilan besar, dara berkulit putih, rambut lurus tersebut langsung mengiyakannya.

Namun, sesampainya di lokasi, ternyata dirinya dijadikan PSK dan bekerja dibawah paksaan karena terjerat utang. Selain itu, ketatnya pengawasan kamera cctv dan petugas 24 jam bejaga-jaga dengan menggunakan senjata air softgun.

Menurut pengakuan I, dalam satu hari ia bisa melayani lebih dari tiga tamu. Tarif satu tamu dibandrol sebesar Rp150.000.

Untuk satu kali tamu, para pekerja hanya dibayar Rp50.000 sisanya Rp100.000 masuk dalam kas pemilik kafe.

Upah bekerja sabagai PSK sebesar Rp50.000, lanjut I tidak menghasilkan apa-apa, karena uang tersebut juga digunakan untuk melunasi utang ke pemilik toko.

"Capek kerja, uangnya juga tidak bisa digunakan karena habis terpakai buat bayar utang," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kepolisian Resor Bogor Kota berhasil mengungkap tindak pidana perdagangan orang dan eksploatasi remaja yang dipekerjakan sebagai PSK.

Sebanyak 15 orang perempuan yang berusia antara 18 hingga 25 tahunan asal Bogor direkrut dan dijadikan PSK oleh para sindikat yang beroperasi di Palembang.

Sindikat tersebut telah berlangsung selama 1,5 tahun, para wanita ini dibawa ke salah satu cafe di Palembang dan dipekerjakan sebagai PSK.

Selama bekerja, wanita-wanita ini tidak diperbolehkan keluar dari penampungan. Pelaku menggunakan cctv untuk mengawasi gerak-gerik mereka.

Salah satu dari 15 perempuan sedang hamil empat bulan yang diduga hasil dari perbuatan terlarang tersebut.

"Para pelaku sudah kita amankan berjumlah enam orang, mereka terdiri atas pemilik kafe atau pemilik usaha prostitusi, mucikari, dan penjaga kafe. Semuanya sudah ditahan di Mapolres Bogor," kata Kepala Polisi Resor Bogor AKBP Hilman.

Ke enam tersangka masing-masing Iwan dan Iyu bertugas merekrut dan mengirim dari Bogor. Yuli dan Popo pemilik kafe Rio tempat penampungan dan memperkerjakan korban.

Tersangka ke lima bernama Iwan Susanto (30) sebagai kasir dan Efendi (24) petugas keamanan dan parker, serta antar jemput korban.

Para tersangka dijerat dengan pasal 2 Undang-Undang nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp600 juta.[ito]

Kemensos akan rehabilitasi PSK di Dolly

Ilustrasi. merdeka.com/shutterstock

Reporter: Moch. Andriansyah

Dirjen Rehabilitasi Kementerian Sosial mulai berniat untuk memberantas lokalisasi yang ada di Jawa Timur, termasuk di Surabaya seperti Dolly. Tujuannya, untuk mengentaskan pekerja seks komersial (PKS) dari 'lembah hitam'.
Rehabilitasi PSK yang beroperasi di berbagai lokalisasi di Provinsi Jawa Timur itu, dengan memberikan bimbingan keterampilan sebelum mengembalikan mereka ke masyarakat.
"Konsentrasinya tidak hanya WTS, tetapi juga kelompok marjinal. Termasuk gelandangan dan pengemis, anak jalanan, dan orang-orang cacat terpinggirkan, yang tidak punya akses dan lainnya," kata Dirjen Rehabilitasi Sosial, Syamsudi usai bertemu Gubernur Jawa Timur, Soekarwo di Gedung Grahadi Surabaya, Rabu (18/4).
Ibarat gayung bersambut, selain keinginan yang kuat dari kepala pemerintahan di Jawa Timur, kegiatan tersebut juga menjadi kewajiban Kementerian Sosial untuk mengangkat harkat dan martabat manusia, khususnya pekerja seks komersial (PSK) di seluruh tanah air.
“Kami telah melakukan pemetaan dengan melakukan penelitian di sejumlah lokalisasi di berbagai daerah di Indonesia. Memang masih ada sejumlah kendala masih terjadi. Termasuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat sekitar lokalisasi, khususnya yang ada ketergantungan dengan keberadaan lokalisasi,” katanya.
Untuk itulah, pihak kementerian sosial akan libatkan semua unsur pemerintahan termasuk elemen masyarakat yang ada kaitannya dengan keberadaan lokalisasi.
Syamsu juga mengatakan, pekerjaan yang dilakukannya itu, akan diawali dengan melakukan pendataan terlebih dahulu. “Selanjutnya pemberian pelatihan yang akan dijadikan bekal untuk menjalani kehidupan baru di masyarakat. Bekal pelatihan kami targetkan selama enam bulan, selanjutnya diberikan tunjangan untuk modal awal,” kata dia yakin.
Berbagai poin itu yang akan terus didiskusikan dengan pemerintah provinsi, lanjut dia, tidak hanya di Jawa Timur, tetapi juga untuk wilayah lain di Indonesia. Sayang, Syamsu tidak bisa memberi keterangan secara detail kapan realisasi rencana tersebut siap digelar.[ren]

Surabaya Jadi Pilot Project Penanganan PSK

Surabaya Jadi Pilot Project Penanganan PSK

PSK (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Surabaya -- Pemerintah kota Surabaya gencar mengentaskan PSK yang berada di pusat lokalisasi Doli yang mencapai 7000 orang. Atas upaya pemerintah menangani PSK itulah, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial menjadikan Surabaya dan Jawa Timur sebagai pilot project penanganan PSK se-Indonesia.

Dirjen Rebsos, Syamsudi mengatakan, pihaknya akan menggandeng Pemprov Jatim untuk menangani masalah ini. Penanganan PSK ini akan dimulai dengan mengundang berbagai pihak dalam workshop untuk meminta pendapat dan masukan dari berbagai pihak, tak terkecuali PSKnya sendiri.
Dari jumlah PSK 7000 orang, Pemprov Jatim menargetkan 700 PSK dapat dipulangkan dan keluar dari jeratan pekerjaan penyakit sosial tersebut. Dengan masuknya Dirjen Rebsos, setidaknya akan mengurangi PSK sebanyak 100 PSK pertahun. Hal itu menurut Syamsudi karena anggaran pemerintah pusat yang hanya 8 Miliar untuk seluruh Indonesia.
"Sementara ini disesuaikan anggaran yang ada. Jika nanti sistem yang dibentuk bagus, anggaran dapat dicarikan lagi," kata dia usai menemui gubernur Jatim, Rabu (18/4).
Lebih lanjut, kata Syamsudi, penanganan PSK ini merupakan penanganan yang kompleks. Sebab, dalam kasus PSK, akan menyentuh sendi penyakit sosial yang lainnya seperti Narkotika, Kriminalitas, dan lain-lain. Menurut Syamsudi, sistem lokalisasi di Surabaya untuk PSK lebih bagus dibanding dengan PSK yang tidak dilokalisasi. Pasalnya, kata dia, PSK yang tidak dilokalisasi dapat menularkan penyakit sosial tersebut dimana saja.
Sementara itu, Gubernur Jatim, Soekarwo yang ditemui wartawan mengatakan, penyelesaian PSK sebagian besar di Surabaya adalah masalah ekonomi. Jadi, jika mereka (PSK) diberi bekal dan diajari untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya, sebagian besar mereka mau meninggalkan pekerjaan itu. Namun, jika memang permasalahan itu mengarah pada penyakit sosial, hal itu sulit diselesaikan.
"Permasalahan yang menonjol dari PSK adalah masalah ekonomi dan sosial," katanya pada wartawan.
Masalah sosial artinya, apakah setelah mereka dikembalikan kerumah, keadaan masyarakatnya tetap menerima mereka atau tidak. Oleh sebab itu, Pemprov dan Dirjen sedang membahas konsep penanganan yang akan diterapkan untuk mengentaskan penyakit sosial masyarakat ini mulai dari Jawa Timur, khususnya wilayah Surabaya.

Redaktur: Hazliansyah

Reporter: Agus Raharjo

Sunday, April 15, 2012

Skandal seks petugas dinas rahasia AS cemarkan temu puncak Amerika

Kartagena, Kolombia (ANTARA News) - Skandal seks melibatkan petugas Dinas Rahasia dalam perjalanan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Kolombia berkembang pada Minggu sesudah tentara negara adidaya itu juga terkait dengan pekerja seks komersial.

Sebelas petugas rahasia itu, yang dikenal atas penanganan keras keamanan bagi petinggi pemerintah Amerika Serikat, dipulangkan setelah diduga lelakukan penyimpangan di kota wisata Kartagena, lapor AFP dan Reuters.

Lima tentara Amerika Serikat juga disidik atas perilaku di hotel tempat petugas Dinas Rahasia itu menginap dan mereka dibebastugaskan serta dikirim ke asrama.

Obama tiba pada Jumat malam di pelabuhan Karibia Kartagena, di bawah keamanan ketat untuk temu puncak Amerika, tapi tuduhan terhadap Dinas Rahasia dan itu sepenuhnya membayangi pertemuan pemimpin kawasan tersebut.

Tuduhan perilaku tak pantas itu muncul pada Kamis terhadap anggota Dinas Rahasia tersebut, yang mencakup petugas khusus dan petugas bagian tak berseragam, meskipun tidak satu pun dari mereka ditugaskan untuk keamanan pribadi Obama.

Wakil Direktur Dinas Rahasia Paul Morrissey menyatakan "alasan tuduhan, ditambah kebijakan tenggangrasa nol atas perbuatan pribadi", mengakibatkan tindakan tegas untuk mencopot mereka tugas.

Setelah dikirim pulang ke Amerika Serikat, mereka dibawa ke markas dinas itu di Washington untuk diperiksa pada Sabtu sebagai bagian dari penyidikan bagian urusan dalam badan tersebut.

"Akibatnya, ke-11 petugas itu dihukum cuti administratif. Ini aturan baku dan memberi kami kesempatan melakukan penyidikan penuh, menyeluruh dan adil terhadap tuduhan tersebut," kata Morrissey.

"The Washington Post", dengan mengutip keterangan Jon Adler, ketua Perhimpunan Penegak Hukum Pusat, melaporkan bahwa setidak-tidaknya satu petugas terlibat dengan pelacur di Kartagena.

Ronald Kessler, mantan pewarta "Post" dan penulis buku tentang Dinas Rahasia, kepada jarinagn berita CNN menyatakan skandal itu terjadi ketika salah satu petugas tersebut "tidak membayar satu dari pelacur itu, yang lalu mengeluh kepada polisi".

Sementara itu, wakil rakyat dari Republiken Peter King, yang memimpin panitia Keamanan Dalam Negeri DPR, kepada "The New York Times" menyatakan ke-11 petugas tersebut diduga membawa perempuan ke kamar mereka.

Sementara pelacuran sah di wilayah tertentu di Kolombia, perilaku seperti itu melanggar aturan etik badan tersebut, sebagian karena dapat mengkibatkan pemerasan, membantu kegiatan mata-mata dan menolong musuh masuk ke wilayah keamanan, kata King seperti dikutip "The Times".

Juru bicara Gedung Putih Jay Carney kepada wartawan menyatakan Obama percaya penuh kepada Dinas Rahasia.

Tak lama setelah itu, pernyataan dikeluarkan oleh Komando Selatan tentara Amerika Serikat, yang bertugas merencanakan dan bergerak di Amerika tengah dan selatan, yang mengatakan lima petugasnya dikaitkan dengan tuduhan perilaku salah serupa di Kartagena.

Panglimanya, Jenderal Douglas Fraser, disebut menyatakan "kecewa pada seluruh kejadian itu dan perilaku tersebut tidak sesuai dengan aturan baku profesional tentara Amerika Serikat".

Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa sesudah penyelidikan menyeluruh, hukuman, jika tepat, akan berlaku sesuai dengan keadilan tentara.

Peristiwa itu terjadi saat dua bom kecil meledak di ibukota Bogota, di dekat kedutaan Amerika Serikat, dan dua lagi di Kartagena, meskipun tidak ada yang luka dan tak ada kerusakan.

Dinas Rahasia, yang mempekerjakan sekitar 3.200 petugas dan 1.300 polisi tak berseragam, disorot atas sejumlah kejadian terkenal sejak Obama menjabat tiga tahun lalu.

Pada akhir 2009, penyelidikan dilakukan setelah pasangan tak diundang -keduanya calon bintang acara kenyataan televisi- menembus gerbang andrawina pertama Obama di Gedung Putih, masuk ke pesta itu dan bahkan bergambar bersama presiden itu.

Pasangan dari Virginia Tareq dan Michaele Salahi itu menjadi berita utama setelah menghadiri bagian awal makan malam menghormati Perdana Menteri India Manmohan Singh, meskipun tidak memiliki undangan atau izin Dinas Rahasia.

Pada November 2011, satu petugas didakwa melakukan pembunuhan tingkat dua setelah kejadian di Hawaii pada November menjelang temu puncak APEC, kata "The Washington Post", sementara satu lagi didakwa mengemudi dalam keadaan mabuk pada Agustus 2011 sementara membantu mengatur keamanan untuk perjalanan bus Obama di Iowa. (B002/Z002)

Editor: B Kunto Wibisono

PSK dan Gepeng Serbu Bogor

JABODETABEK

Sabtu, 31 Maret 2012 , 12:39:00

BOGOR - Lemahnya Pemkot Bogor mengatasi gelandangan dan pengemis (gepeng) serta Pekerja Seks Komersial (PSK), membuat kaum marginal ini makin menjamur di sana. Di Kota Hujan itu, meeka terlihat di berbagai sudut kota dan tempat umum. Tak tanggung-tanggung, para gepeng dan PSK ini berani beroperasi dari siang hingga malam.
Pada malam hari,para PSK dengan mudah dapat ditemui di sekitar Jalan Kapten Muslihat. Sementara, berbagai cara dilakukan para gepeng menjalankan aksinya. Seperti menggendong bayi, berpura-pura pincang hingga buta untuk berharap belas kasihan. Tak heran, masyarakat resah dengan keberadaan mereka yang telah mengganggu ketertiban umum.
”Saya harap Pemkot Bogor tak tinggal diam. Cepat ditertibkan,” ujar Yunus, 30, warga Kelurahan Lebak Kantin, Kecamatan Bogor Tengah, kepada koran ini, kemarin. Menanggapi masalah itu, Kepala Satpol PP Kota Bogor Bambang Budianto mengatakan, razia gepeng dan PSK sudah rutin dilakukan. ”Dalam seminggu, kita sudah merazia dua hingga tiga kali,” ujarnya.
Bahkan, dia mengaku tengah memantau lokasi pusat berkumpulnya gepeng dan PSK. Tak hanya itu, dia juga berjanji akan menindak oknum aparat yang membekingi para gepeng dan PSK tersebut. ”Jika terbukti, kita akan laporkan (oknum aparat) ke pihak berwajib,” pungkas Bambang.
Selain gepeng dan PSK, Satpol PP Kota Bogor juga banyak merazia minuman keras (miras) di tempat hiburan malam. ”Razia miras juga selalu dilakukan,dalam seminggu kita sudah datangi tiga tempat hiburan malam seperti diskotik, karaoke dan billiard,” cetusnya juga. (cr2/jpnn)

Pekerja Seks Komersial di Wanam Bebas Beroperasi

Rabu, 04 April 2012 , 17:14:00


 

Tanpa Pemeriksaan Kesehatan Rutin
MERAUKE- Para Pekerja Seks Komersial (PSK) di Wanam kini bebas beroperasi tanpa pemeriksaan kesehatan secara rutin dari tenaga kesehatan. Pasalnya saat ini tenaga kesehatan sangat minim. 
   Kepala Pusat Kesehatan Reproduksi (PKR) RSUD Merauke dr Inge Silvia, kepada Cenderawasih Pos, Selasa kemarin, mengungkapkan, kesulitan  yang dialami pihaknya untuk bisa mengontrol atau memeriksa kesehatan secara rutin para PSK yang beroperasi di Wanam tersebut karena minimnya tenaga.
  ‘’Kami  di Merauke saja, masih kurang  tenaga, apalagi kita  mau kirim ke  Wanam. Dan kalau kita mau kirim ke sana, juga harus  dengan dukungan dana dan fasilitas di sana. Ini yang masih menjadi kesulitan,’’  katanya. 
   Dikatakan, kalau pemeriksaan HIV/AIDS, bisa dilakukan oleh dokter  yang
bertugas di sana (Wanam). Tapi khusus untuk  penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dibutuhkan keahlian khusus, karena itu berkaitan dengan profesi. Jadi tidak semua  tenaga medis seperti dokter bisa melakukan,’’ katanya. 
  Berdasarkan data yang diperoleh saat turun ke Wanam tahun 2011 lalu, ungkap dr Silvia Inge, telah ditemukan  sedikitnya 40 PSK beroperasi di daerah tersebut.  Para PSK tersebut, lanjut dia, ada yang  datang dari Merauke, Timika, Jawa dan daerah lainnya di
Indonesia. ‘’Kalau sekarang  kita tidak tahu jumlahnya sudah berapa karena kemungkinan bisa saja terus bertambah,’’ jelasnya.
  Ditambahkan, tujuan dari pemeriksaan secara rutin tersebut untuk mengetahui status
dari para pekerja tersebut. Jika  ditemukan terkena IMS, maka otomatis dilarang untuk bekerja atau melakukan transaksi sampai IMS-nya sembuh.  Karena IMS sendiri, merupakan pintu masuknya  HIV/AIDS.
  Sekadar diketahui, di Wanam telah beroperasi satu perusahaan penangkap ikan yang sebagian besar ABK-nya berasal dari China yang menjadi daya tarik bagi PSK ke daerah tersebut. Bahkan,  data tahun lalu telah ditemukan sejumlah PSK yang positif HIV/AIDS. (ulo/nan)

Main Seks dengan ABG Vietnam, Lelaki Singapura Masuk Penjara

Shutterstock

Ilustrasi

SINGAPURA, KOMPAS.com — Seorang mantan konsultan keamanan dipenjara selama empat bulan, Selasa (10/4/2012), karena berhubungan seks dengan seorang pekerja seks komersial Vietnam di bawah umur.
Winson Chan Swee Teck yang berusia 49 tahun terbukti bersalah membayar 100 dollar Singapura untuk layanan seks yang didapatkannya. Gadis Vietnam berusia 17 tahun itu tidak dapat disebutkan namanya untuk melindungi identitasnya.
Chan merupakan satu dari tiga lelaki yang sebelumnya didenda karena berhubungan seks komersial dengan perempuan yang sama.
Chan yang sudah bercerai dengan istrinya itu melakukan hubungan seks dengan anak baru gede (ABG) Vietnam tersebut di sebuah hotel di Lorong 28 Geylang pada Juli 2011. Hal itu dilakukan setelah sang ABG berbohong dengan mengatakan bahwa dia berusia 20 tahun dan menolak menunjukkan paspornya.
Lelaki pertama yang dihukum atas perbuatannya adalah mantan eksekutif Land and Estate di Badan Pertanahan Singapura (Singapore Land Authority).
Kum Chin Tiong yang berusia 57 tahun dipenjara 9 bulan pada bulan Januari 2012 setelah mengaku bersalah membayar 100 dollar Singapura untuk berhubungan seks dengan ABG itu.
Lelaki ketiga, Yeo Joo Meng, berusia 55 tahun, adalah karyawan toko, juga dituduh membayar ABG Vietnam itu 100 dollar Singapura dan 130 dollar Singapura untuk layanan seks yang didapatkannya.
Di Singapura, jika Anda membayar layanan seks kepada ABG di bawah 18 tahun, berarti Anda melanggar hukum negara itu. Dan, jika terbukti bersalah, Anda akan dipenjara paling lama tujuh tahun ditambah kewajiban membayar denda.

Dibekuk, Komplotan Pemaksa ABG Jadi PSK

 

Sebanyak 16 korban perdagangan manusia diamankan. Salah satunya hamil 5 bulan.

Elin Yunita Kristanti, Ayatullah Humaeni (Bogor)

16 perempuan, di antaranya ABG dipaksa menjadi PSK di Palembang (VIVAnews/ Faddy Ravydera)

VIVAnews - Jajaran Reskrim Polres Bogor Kota Bogor, JawaBarat mengungkap perdagangan manusia antar pulau Jawa dan Sumatera. Para korban, sebanyak 16 orang perempuan, ikut diamankan di Polres Bogor Kota Bogor. Salah satu dari mereka diketahui sedang hamil lima bulan.
Polisi juga menangkap sembilan tersangka komplotan penjual pada ABG, termasuk pemilik kafe, penyandang dana, dan mereka yang bertugas mencari korban.  Para korban yang dijadikan pekerja seks komersial kebanyakan masih berusia belasan tahun alias anak baru gede (ABG). Salah satunya M yang asli Bogor, ia baru berusia 17 tahun.
Menurut Kapolres Bogor Kota, Ajun Komisaris Besar Polisi Hilman, pengungkapan kasus ini berawal dari laporan orang tua korban yang  kehilangan anak.
Ternyata, setelah ditelusuri dan di selidiki, para korban dijadikan pekerja seks komersial (PSK) di daerah Palembang. Awalnya, petugas berhasil menangkap pemasok perempuan di Bogor, yaitu Iw (48) dan AG (38).
Setelah ditangkap, kemudian dilakukan pengembangan ke Palembang oleh dua tim Reskrim. Polisi menerjunkan tim untuk memantau lokasi dan satu tim lainnya diberangkatkan ke Jakarta, sebab berdasarkan informasi dari Palembang, pemilik lokalisasi sedang belanja di Jakarta.
Pelaku utama pemilik lokalisasi, kata Hilman, adalah Y seorang wanita berusia 28 tahun dan tinggal di Palembang. Dia berhasil ditangkap di Hotel Royal Jakarta, pada Rabu kemari. Saat dibekuk, ia sedang berkemas. "Y ini memang sudah diikuti sejak satu minggu," kata Hilman.

Ia menambahkan bahwa hingga saat ini jumlah korban yang diamankan dari tempat lokalisasi milik Y ini sejumlah 16 orang dan salah satunya sedang hamil lima bulan. Tujuh di antara para korban berasal dari Bogor. Dari Cimahpar, Bogor Barat, Tanah Sareal dan Tanah Baru.
Modus yang dilakukan komplotan itu, awalnya para korban di tawari oleh tersangka untuk bekerja di sebuah kafe dengan fasilitas menggiurkan. Namun, sesampainya di Palembang, para korban dijadikan PSK, dengan bayaran Rp150 ribu sekali melayani lelaki hidung belang. "Selama di Palembang, para korban tidak boleh berkomunikasi dengan keluarganya dan ditakut-takuti dengan menggunakan senjata api,"paparnya.
Atas perbuatannya tersebut, dia menegaskan, para tersangka diancam dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan orang, jo Pasal 83 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman 15 tahun kurungan penjara.
Sementara itu, M, 24, salah satu korban, mengakui, awalnya di tawari kerja oleh tersangka itu untuk kerja di sebuah kafe di daerah Palembang. Ternyata, sampai di Palembang dirinya harus melayani lelaki hidung belang. "Sampai saya hamil 5 bulan," kata dia, lirih.

Iseng dengan PSK, 12 Pengawal Obama Dipulangkan

Wikimedia Commons Suasana kota Cartagena di Kolombia di waktu malam.

CARTAGENA, KOMPAS.com — Sebanyak 12 anggota pasukan pengamanan presiden AS dibebastugaskan dalam pengawalan Presiden Barack Obama di KTT Amerika di Cartagena, Kolombia, Jumat (14/4/2012), setelah ketahuan iseng dengan pekerja seks komersial (PSK) setempat. Mereka langsung dipulangkan ke AS.

Juru bicara Secret Service, Ed Donovan, di Washington DC mengakui ada dugaan perbuatan tidak senonoh yang dilakukan para pengawal presiden itu selama di Cartagena. Namun, ia tak membenarkan ataupun membantah perbuatan itu terkait dengan prostitusi.

Pihak Associated Press mengetahui persoalan ini setelah ditelepon oleh seseorang yang mengetahui kasus itu. Si penelepon mengatakan, para pengawal presiden itu dibebastugaskan karena ketahuan iseng dengan PSK.

Pihak Gedung Putih tidak mau berkomentar mengenai permasalahan ini, tetapi juga tidak membantah kejadian tersebut. Seorang pejabat Pemerintah AS, yang tak mau namanya disebutkan, mengatakan terdapat 12 agen Secret Service yang dipulangkan ke AS.

Surat kabar The Washington Post mengutip Jon Adler, Presiden Asosiasi Petugas Penegak Hukum Federal AS, yang mengatakan, paling tidak satu dari 12 orang itu diketahui iseng dengan PSK setempat.

Donovan mengatakan, para agen yang terlibat kasus perbuatan tak senonoh itu langsung dipulangkan ke AS dan diserahkan ke Kantor Tanggung Jawab Profesional Secret Service untuk diproses lebih lanjut. Mereka langsung digantikan agen-agen baru.

Ia menambahkan, insiden ini terjadi sebelum Presiden Obama tiba di Cartagena, Jumat malam. Obama menghadiri jamuan makan malam di sebuah benteng Spanyol kuno di Cartagena, Jumat malam, sebelum menghadiri KTT dengan para kepala negara di kawasan tersebut, Sabtu dan Minggu.

Menurut seorang pegawai Hotel Caribe, tempat para agen Secret Service, staf presiden, dan wartawan menginap, para pengawal presiden itu tiba di hotel tersebut sejak sepekan lalu. Selama di sana, mereka dikabarkan sering minum-minum. Pihak bagian humas hotel menolak berkomentar.