Senin, 16 April 2012

Pekerja Seks Komersial di Wanam Bebas Beroperasi

Rabu, 04 April 2012 , 17:14:00


 

Tanpa Pemeriksaan Kesehatan Rutin
MERAUKE- Para Pekerja Seks Komersial (PSK) di Wanam kini bebas beroperasi tanpa pemeriksaan kesehatan secara rutin dari tenaga kesehatan. Pasalnya saat ini tenaga kesehatan sangat minim. 
   Kepala Pusat Kesehatan Reproduksi (PKR) RSUD Merauke dr Inge Silvia, kepada Cenderawasih Pos, Selasa kemarin, mengungkapkan, kesulitan  yang dialami pihaknya untuk bisa mengontrol atau memeriksa kesehatan secara rutin para PSK yang beroperasi di Wanam tersebut karena minimnya tenaga.
  ‘’Kami  di Merauke saja, masih kurang  tenaga, apalagi kita  mau kirim ke  Wanam. Dan kalau kita mau kirim ke sana, juga harus  dengan dukungan dana dan fasilitas di sana. Ini yang masih menjadi kesulitan,’’  katanya. 
   Dikatakan, kalau pemeriksaan HIV/AIDS, bisa dilakukan oleh dokter  yang
bertugas di sana (Wanam). Tapi khusus untuk  penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dibutuhkan keahlian khusus, karena itu berkaitan dengan profesi. Jadi tidak semua  tenaga medis seperti dokter bisa melakukan,’’ katanya. 
  Berdasarkan data yang diperoleh saat turun ke Wanam tahun 2011 lalu, ungkap dr Silvia Inge, telah ditemukan  sedikitnya 40 PSK beroperasi di daerah tersebut.  Para PSK tersebut, lanjut dia, ada yang  datang dari Merauke, Timika, Jawa dan daerah lainnya di
Indonesia. ‘’Kalau sekarang  kita tidak tahu jumlahnya sudah berapa karena kemungkinan bisa saja terus bertambah,’’ jelasnya.
  Ditambahkan, tujuan dari pemeriksaan secara rutin tersebut untuk mengetahui status
dari para pekerja tersebut. Jika  ditemukan terkena IMS, maka otomatis dilarang untuk bekerja atau melakukan transaksi sampai IMS-nya sembuh.  Karena IMS sendiri, merupakan pintu masuknya  HIV/AIDS.
  Sekadar diketahui, di Wanam telah beroperasi satu perusahaan penangkap ikan yang sebagian besar ABK-nya berasal dari China yang menjadi daya tarik bagi PSK ke daerah tersebut. Bahkan,  data tahun lalu telah ditemukan sejumlah PSK yang positif HIV/AIDS. (ulo/nan)

Minggu, 15 April 2012

Main Seks dengan ABG Vietnam, Lelaki Singapura Masuk Penjara

Shutterstock

Ilustrasi

SINGAPURA, KOMPAS.com — Seorang mantan konsultan keamanan dipenjara selama empat bulan, Selasa (10/4/2012), karena berhubungan seks dengan seorang pekerja seks komersial Vietnam di bawah umur.
Winson Chan Swee Teck yang berusia 49 tahun terbukti bersalah membayar 100 dollar Singapura untuk layanan seks yang didapatkannya. Gadis Vietnam berusia 17 tahun itu tidak dapat disebutkan namanya untuk melindungi identitasnya.
Chan merupakan satu dari tiga lelaki yang sebelumnya didenda karena berhubungan seks komersial dengan perempuan yang sama.
Chan yang sudah bercerai dengan istrinya itu melakukan hubungan seks dengan anak baru gede (ABG) Vietnam tersebut di sebuah hotel di Lorong 28 Geylang pada Juli 2011. Hal itu dilakukan setelah sang ABG berbohong dengan mengatakan bahwa dia berusia 20 tahun dan menolak menunjukkan paspornya.
Lelaki pertama yang dihukum atas perbuatannya adalah mantan eksekutif Land and Estate di Badan Pertanahan Singapura (Singapore Land Authority).
Kum Chin Tiong yang berusia 57 tahun dipenjara 9 bulan pada bulan Januari 2012 setelah mengaku bersalah membayar 100 dollar Singapura untuk berhubungan seks dengan ABG itu.
Lelaki ketiga, Yeo Joo Meng, berusia 55 tahun, adalah karyawan toko, juga dituduh membayar ABG Vietnam itu 100 dollar Singapura dan 130 dollar Singapura untuk layanan seks yang didapatkannya.
Di Singapura, jika Anda membayar layanan seks kepada ABG di bawah 18 tahun, berarti Anda melanggar hukum negara itu. Dan, jika terbukti bersalah, Anda akan dipenjara paling lama tujuh tahun ditambah kewajiban membayar denda.

Dibekuk, Komplotan Pemaksa ABG Jadi PSK

 

Sebanyak 16 korban perdagangan manusia diamankan. Salah satunya hamil 5 bulan.

Elin Yunita Kristanti, Ayatullah Humaeni (Bogor)

16 perempuan, di antaranya ABG dipaksa menjadi PSK di Palembang (VIVAnews/ Faddy Ravydera)

VIVAnews - Jajaran Reskrim Polres Bogor Kota Bogor, JawaBarat mengungkap perdagangan manusia antar pulau Jawa dan Sumatera. Para korban, sebanyak 16 orang perempuan, ikut diamankan di Polres Bogor Kota Bogor. Salah satu dari mereka diketahui sedang hamil lima bulan.
Polisi juga menangkap sembilan tersangka komplotan penjual pada ABG, termasuk pemilik kafe, penyandang dana, dan mereka yang bertugas mencari korban.  Para korban yang dijadikan pekerja seks komersial kebanyakan masih berusia belasan tahun alias anak baru gede (ABG). Salah satunya M yang asli Bogor, ia baru berusia 17 tahun.
Menurut Kapolres Bogor Kota, Ajun Komisaris Besar Polisi Hilman, pengungkapan kasus ini berawal dari laporan orang tua korban yang  kehilangan anak.
Ternyata, setelah ditelusuri dan di selidiki, para korban dijadikan pekerja seks komersial (PSK) di daerah Palembang. Awalnya, petugas berhasil menangkap pemasok perempuan di Bogor, yaitu Iw (48) dan AG (38).
Setelah ditangkap, kemudian dilakukan pengembangan ke Palembang oleh dua tim Reskrim. Polisi menerjunkan tim untuk memantau lokasi dan satu tim lainnya diberangkatkan ke Jakarta, sebab berdasarkan informasi dari Palembang, pemilik lokalisasi sedang belanja di Jakarta.
Pelaku utama pemilik lokalisasi, kata Hilman, adalah Y seorang wanita berusia 28 tahun dan tinggal di Palembang. Dia berhasil ditangkap di Hotel Royal Jakarta, pada Rabu kemari. Saat dibekuk, ia sedang berkemas. "Y ini memang sudah diikuti sejak satu minggu," kata Hilman.

Ia menambahkan bahwa hingga saat ini jumlah korban yang diamankan dari tempat lokalisasi milik Y ini sejumlah 16 orang dan salah satunya sedang hamil lima bulan. Tujuh di antara para korban berasal dari Bogor. Dari Cimahpar, Bogor Barat, Tanah Sareal dan Tanah Baru.
Modus yang dilakukan komplotan itu, awalnya para korban di tawari oleh tersangka untuk bekerja di sebuah kafe dengan fasilitas menggiurkan. Namun, sesampainya di Palembang, para korban dijadikan PSK, dengan bayaran Rp150 ribu sekali melayani lelaki hidung belang. "Selama di Palembang, para korban tidak boleh berkomunikasi dengan keluarganya dan ditakut-takuti dengan menggunakan senjata api,"paparnya.
Atas perbuatannya tersebut, dia menegaskan, para tersangka diancam dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan orang, jo Pasal 83 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman 15 tahun kurungan penjara.
Sementara itu, M, 24, salah satu korban, mengakui, awalnya di tawari kerja oleh tersangka itu untuk kerja di sebuah kafe di daerah Palembang. Ternyata, sampai di Palembang dirinya harus melayani lelaki hidung belang. "Sampai saya hamil 5 bulan," kata dia, lirih.

Iseng dengan PSK, 12 Pengawal Obama Dipulangkan

Wikimedia Commons Suasana kota Cartagena di Kolombia di waktu malam.

CARTAGENA, KOMPAS.com — Sebanyak 12 anggota pasukan pengamanan presiden AS dibebastugaskan dalam pengawalan Presiden Barack Obama di KTT Amerika di Cartagena, Kolombia, Jumat (14/4/2012), setelah ketahuan iseng dengan pekerja seks komersial (PSK) setempat. Mereka langsung dipulangkan ke AS.

Juru bicara Secret Service, Ed Donovan, di Washington DC mengakui ada dugaan perbuatan tidak senonoh yang dilakukan para pengawal presiden itu selama di Cartagena. Namun, ia tak membenarkan ataupun membantah perbuatan itu terkait dengan prostitusi.

Pihak Associated Press mengetahui persoalan ini setelah ditelepon oleh seseorang yang mengetahui kasus itu. Si penelepon mengatakan, para pengawal presiden itu dibebastugaskan karena ketahuan iseng dengan PSK.

Pihak Gedung Putih tidak mau berkomentar mengenai permasalahan ini, tetapi juga tidak membantah kejadian tersebut. Seorang pejabat Pemerintah AS, yang tak mau namanya disebutkan, mengatakan terdapat 12 agen Secret Service yang dipulangkan ke AS.

Surat kabar The Washington Post mengutip Jon Adler, Presiden Asosiasi Petugas Penegak Hukum Federal AS, yang mengatakan, paling tidak satu dari 12 orang itu diketahui iseng dengan PSK setempat.

Donovan mengatakan, para agen yang terlibat kasus perbuatan tak senonoh itu langsung dipulangkan ke AS dan diserahkan ke Kantor Tanggung Jawab Profesional Secret Service untuk diproses lebih lanjut. Mereka langsung digantikan agen-agen baru.

Ia menambahkan, insiden ini terjadi sebelum Presiden Obama tiba di Cartagena, Jumat malam. Obama menghadiri jamuan makan malam di sebuah benteng Spanyol kuno di Cartagena, Jumat malam, sebelum menghadiri KTT dengan para kepala negara di kawasan tersebut, Sabtu dan Minggu.

Menurut seorang pegawai Hotel Caribe, tempat para agen Secret Service, staf presiden, dan wartawan menginap, para pengawal presiden itu tiba di hotel tersebut sejak sepekan lalu. Selama di sana, mereka dikabarkan sering minum-minum. Pihak bagian humas hotel menolak berkomentar.

Sabtu, 14 April 2012

Diambil Sampel Darah 313 Pelacur Jalanan

SERPONG (Pos Kota) – Ratusan pelacur jalanan maupun wanita pekerja seks (PSK) yang ada di warung remang-remang maupun lainnya di tujuh kecamatan Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kurun waktu Desember 2011 hingga awal Maret 2012 diambil sampel darahnya . Ini dilakukan untuk antisipasi penyebaran penyakit HIV atau AIDS.

“Ada sekitar 313 wanita pekerja malam yang diambil sampel darahnya untuk diperiksa di laboratorium sebagai salah satu antisipasi penyebaran penyakit tersebut,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Dadang M. EPid dan Kepala Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) setempat Alwan, Jumat (6/4).

Pengambilan sampel itu dilakukan secara acak di tujuh kecamatan yang memiliki lokasi tempat hiburan malam dan pertitusi seperti Pondok Kacang Timur, Tegal Rotan (Pondok Aren), Buaran (serpong) dan Setu.

Menrut dia, hasil sampel itu di teliti di laboratorium yang ada di Labkesda yang kemudian akan di kroscek ke laboratorium peneliti pengembangan Kementerian Kesehatan sehingga hasilnya akan lebih baik dan kuat untuk pemeriksaan darah tersebut.

“Kelompok resiko tinggi itu kemungkinan daerah lokalisasi dan warung remang-remang,” ungkapnya sambil menambahkan sekitar tiga hingga lima persen hasil pemeriksaan itu memang positif tapi tak bisa menyimpulkan jumlah total yang terkena baik tinggi maupun rendah dari jumlah 313 sampel darah yang diperiksa.

Hasilnya, kata Alwan masih harus ditunggu dari laboratorium penelitian pengembangan Kementerian Kesehatan untuk lebih valid datanya jika sudah ketahuan tentunya bisa diantisipasi daerah mana yang beresiko ada penyakit HIV atau AIDS sehingga Dinas Kesehatan Tangsel dapat berupaya melakukan pencegahan sejak awal. (anton)

Teks :Salah satu kegiatan pendataan wanita pekerja malam di salah satu warung remang-remang Kota Tangsel beberapa waktu lalu. (anton/b)